JarakPagar di dukung oleh:

Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat

Kementerian Negara BUMN

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Institut Teknologi Bandung

PT. Perusahaan Listrik Negara

PT. Rajawali Nusantara Indonesia

Permodalan Nasional Madani

Bahana Artha Ventura

PT. Rekayasa Industri

Mengarusutamakan Energi Baru & Terbarukan

Ir Alhilal Hamdi

Deklarasi bersama belasan menteri, BUMN dan organisasi masyarakat – untuk menanggulangi kemiskinan dan krisis BBM dengan cara rehabilitasi serta reboisasi 10 juta lahan kritis dengan membudidayakan tanaman penghasil energi pengganti BBM – telah ditandatangani 12 Oktober 2005. Kesepakatan tersebut bisa menjadi awalan yang bagus dengan lebih menegaskan lagi bahwa energi baru dan terbarukan (renewable energy) mustilah menjadi arus-utama (mainstream) pembangunan Indonesia. Mengingkari jalan tersebut, maka SNPK hanya merupakan kepanjangan paham dari ”Strategi Nasional Pemeliharaan Kemiskinan” berkelanjutan.


Baca lengkap (Format PDF)

Daftar artkel lainnya

Ekonomi Jarak Pagar (Ir Alhilal Hamdi)

Ekonomi kita bergantung dari ekonomi minyak bumi. Namun, zaman minyak murah sudah berakhir. Dengan harga sekarang US$ 60 per barrel, 1 Dimuat di Majalah Tempo, Edisi Khusus, 21 Agustus 2005 “Merawat Indonesia” besarnya subsidi Pemerintah untuk BBM mencapai 25% dari APBN, atau Rp 130 triliun setahun. Angka ini, sudah melampaui seluruh penerimaan negara dari migas tahun 2004 yang besarnya Rp 120 triliun. Bagaimana tahun depan bila harga menjadi US$ 75, atau yang menurut para analis tahun 2010 mencapai US$ 100 per barrel?


Akhir Zaman Minyak (Bumi Murah) (Ir Alhilal Hamdi)

Sesudah distribusi BBM kembali normal, dalam sebuah acara di depan Presiden beberapa waktu lalu, pimpinan Pertamina menyampaikan BBM (bahan bakar minyak) alternatif murah yang dapat diproduksi dengan biaya di bawah Rp 2.000,- per liter, terbuat dari biji minyak Jarak Pagar (Jatropha Oil). Salah seorang menteri memberikan pendapat, bahwa minyak Jarak Pagar memang dapat dipakai, hanya biaya produksinya masih tinggi, dua kali lipat dari angka Pertamina